EKBISPAR.COM – Pernah melihat atau membeli anak ayam warna-warni yang biasa dijual di depan SD atau pasar malam kan? Laris manis dan disukai para bocil.
Anak ayam yang sering disebut ayam pelangi ini bukanlah ras ayam alami, melainkan anak ayam jantan dari industri petelur atau broiler yang diwarnai secara manual oleh pedagang menggunakan zat pewarna.
Ayam ini sangat populer di kalangan anak-anak sekolah karena tampilannya yang unik dan harganya yang sangat murah.
Meskipun terlihat menggemaskan, ada beberapa fakta penting dan risiko kesehatan yang perlu diketahui di balik fenomena anak ayam ini.
Ayam ini umumnya merupakan anak ayam usia 1–15 hari (DOC/Day Old Chick). Di industri besar, anak ayam petelur berjenis kelamin jantan dianggap sebagai “limbah penetasan” karena tidak bisa bertelur dan kurang efisien untuk ayam pedaging.
Bulunya diberi warna menggunakan teknik semprot atau celup. Sebagian pedagang menggunakan pewarna makanan, namun banyak juga yang menggunakan pewarna tekstil tekstil murah seperti Rhodamin B yang berbahaya bagi hewan.
Jika ayam ini berhasil bertahan hidup hingga dewasa, warna buatan tersebut akan rontok dan hilang. Bulu baru yang tumbuh akan kembali ke warna aslinya, yaitu putih atau kuning kecokelatan.
Banyak orang mengeluhkan ayam pelangi ini hanya bertahan hidup beberapa hari saja.
Bahan pewarna tekstil meresap melalui pori-pori kulit atau terhirup, menyebabkan iritasi mata, gangguan pernapasan, hingga kerusakan organ dalam ayam.
Proses pewarnaan yang kasar dan pemisahan dari induk di usia sangat muda membuat ayam mengalami stres dan penurunan imun drastis.
Bulu anak ayam yang basah akibat proses pewarnaan mengganggu kemampuan alami mereka untuk mengatur suhu tubuh.
Alasan
Anak ayam warna-warni banyak dijual di pasar tradisional atau di depan sekolah dasar karena beberapa alasan utama.
Anak ayam jantan dari industri ayam petelur dianggap tidak produktif karena tidak bisa menghasilkan telur dan dagingnya lambat tumbuh. Daripada dibuang, peternak menjualnya dengan harga sangat murah ke pengepul.
Pedagang membeli anak ayam ini dalam jumlah besar (per boks) dengan harga murah, lalu mewarnainya sendiri menggunakan pewarna murah. Ini memberikan margin keuntungan yang lumayan bagi pedagang kecil.
Warna-warni yang mencolok sangat efektif memikat perhatian anak-anak kecil secara instan.
Harganya yang sangat terjangkau (biasanya hanya beberapa ribu rupiah per ekor) membuat anak-anak sekolah bisa membelinya dengan mudah menggunakan uang jajan mereka.
Banyak orang tua membelikannya sebagai mainan hidup yang murah atau media belajar memelihara hewan bagi anak-anak mereka.
Tips Merawat
Jika sudah terlanjur membelinya atau ingin mencoba memeliharanya, lakukan langkah perawatan intensif ini agar mereka bisa bertahan hidup:
Berikan Lampu Penghangat: Tempatkan anak ayam di dalam kardus atau kandang yang dilengkapi lampu bohlam (60 watt) untuk menjaga suhu tubuhnya tetap hangat.
Pakan Khusus DOC: Berikan pakan voer/pur halus khusus anak ayam yang tinggi protein.
Air Minum & Anti Stres: Sediakan air bersih yang dicampur dengan sedikit gula merah atau vitamin anti-stres khusus unggas pada hari-hari pertama.
Jaga Kebersihan Kandang: Lapisi alas kandang dengan koran atau sekam padi, dan ganti secara rutin agar tidak lembap. (Hilal)



