EKBISPAR.COM – Anak-anak zaman now baik Gen Z maupun Alpha kerap menyebut kumpul dalam obrolan mereka. Sejenis apa sih kimpul itu?
Kimpul adalah jenis umbi-umbian lokal dari keluarga talas-talasan (Araceae) dengan nama ilmiah Xanthosoma sagittifolium. Umbi ini sering dijadikan sebagai sumber karbohidrat alternatif pengganti nasi.
Kimpul menjadi sangat populer karena viral di media sosial TikTok melalui kampanye kreatif seorang kreator konten, yang kemudian memicu gerakan diversifikasi pangan hingga mendapat respons resmi dari instansi kesehatan pemerintah.
Popularitas kimpul berawal dari konten unik milik seorang ibu asal Bantul bernama Ibu Tin melalui akun TikTok @black.sheep8208.
Ia kerap membuat video memasak makanan modern dengan kalimat khas: “Karena saya tidak punya…, jadi saya ganti kimpul”.
Ia menyulap umbi tradisional ini menjadi hidangan kekinian seperti Dubai chewy cookies, lasagna, seblak, hingga pengganti daging ayam (Cikuro Kimpul).
Hal ini membuat warganet penasaran dan merasa terhibur hingga muncul istilah tren “terkimpul-kimpul”.
Tren ini tidak berhenti di media sosial saja. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin turut menanggapi aksi Ibu Kimpul lewat unggahan resminya.
Dukungan pemerintah ini mengonfirmasi kelebihan kimpul dari segi medis (bebas gluten, menjaga tekanan darah, kaya serat), yang membuat masyarakat semakin yakin untuk mencobanya sebagai alternatif nasi.
Secara sifat pangan, kimpul memiliki rasa yang cenderung netral dan tekstur yang sangat lembut setelah dimasak.
Sifat “polos” ini membuatnya sangat fleksibel untuk dijadikan substitusi tepung terigu atau dicampur ke berbagai jenis adonan gurih maupun manis tanpa merusak cita rasa utama hidangan tersebut.
Kimpul naik daun di momen yang tepat saat anak muda Gen Z dan pelaku diet sedang gencar mencari pangan alternatif rendah kalori dan rendah lemak.
Karbohidrat di dalam kimpul berupa pati resisten (tahan cerna) yang memberi rasa kenyang jauh lebih lama, menjadikannya opsi populer untuk menu diet sehat.
Banyak orang penasaran dan ikut berburu umbi ini ke pasar setelah viral.
Kandungan
Kimpul bisa menjadi sumber karbohidrat yang kompleks dan membuat kenyang lebih lama dan tidak memicu lonjakan gula darah karena indeks glikemiknya rendah, sekitar 48.
Selain itu, kandungan nutrisinya tidak bisa diremehkan karena kaya akan serat, vitamin B6, C, E, serta mineral seperti kalium, kalsium, dan fosfor.
Kimpul juga bebas Gluten dan sangat cocok dikonsumsi bagi yang sedang menjalani diet atau menghindari gluten.
Hal yang perlu diperhatikan adalah, kimpul tidak boleh dimakan mentah karena mengandung kristal kalsium oksalat yang bisa menyebabkan rasa gatal, perih, dan iritasi di mulut. Harus dimasak atau direbus matang sebelum dikonsumsi.
Nama Lain di Berbagai Daerah
Dan kimpul dikenal dengan berbagai sebutan lokal di Indonesia, antara lain Mbothe / Bothe di Jawa, Bentul / Linyik / Genjlong, Busil, Talas Belitung, dan Keladi di sebagian wilayah Sumatra dan Indonesia Timur. Tentu ingat dengan istilah tua-tua keladi makin tua makin jadi kan? Nah, keladi adalah kimpul.
Pengolahan kimpul secara olahan tradisional yakni direbus dengan sedikit garam, dibuat kolak, keripik, atau dihaluskan bersama kelapa parut.
Sedangkan untuk olahan kekinian, belakangan viral di media sosial seperti TikTok diolah menjadi menu modern seperti cookies atau kue kering, au gratin, lasagna, hingga dumpling.
Pepatah
Faktanya, kumpul tidak hanya populer saat ini. Sejak dulu kimpul sudah dikenal kok, buktinya ada pepatah laris manis tanjung kimpul ya kan?
Ungkapan “Laris manis tanjung kimpul” adalah sebuah peribahasa atau seloka dagang tradisional Indonesia yang bermakna doa, harapan, atau perayaan atas dagangan yang habis terjual dan mendatangkan keuntungan melimpah.
Ungkapan ini biasanya diucapkan oleh pedagang, baik sebagai kalimat rayuan (promosi) untuk menarik pembeli maupun sebagai bentuk rasa syukur saat jualan mereka ludes diserbu pelanggan.
Kalimat ini sebenarnya merupakan bagian dari sebuah pantun kilat (karmina) yang utuh bunyinya:
“Laris manis tanjung kimpul, hati senang uang pun kumpul.”
Jika dibedah per kata, struktur kalimat ini memiliki alasan tersendiri:
Laris Manis: Inti dari doa pedagang, yaitu kondisi di mana barang dagangan laku keras dan sangat diminati pembeli.
Tanjung Kimpul: Penambahan kata “Tanjung Kimpul” semata-mata dipakai sebagai unsur rima atau pencocokan bunyi (puitis). Kata “kimpul” sengaja dipilih agar berakhiran selaras dengan kata “kumpul” pada kalimat lanjutannya.
Meskipun ungkapan ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu sebagai bahasa prokem/pasar tradisional, istilah ini kembali terasa sangat relevan sekarang.
Seiring dengan viralnya umbi kimpul di TikTok belakangan ini, para pedagang umbi di pasar tradisional maupun pelaku usaha kuliner kekinian banyak yang menggunakan kembali jargon “Laris manis tanjung kimpul” sebagai strategi pemasaran kreatif untuk mempromosikan produk olahan kimpul mereka. (Hilal)



