EKBISPAR.COM – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Banten menggelar Taklimat Media dengan tema “Ekonomi Banten Tetap Solid, Prospek Pertumbuhan Terjaga”. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk menyampaikan perkembangan terkini perekonomian Banten, termasuk pertumbuhan ekonomi, investasi, perbankan, inflasi, hingga perkembangan transaksi digital, di Pokel Garden Resto, kelapa dua, Serang, Jumat (7/8/2026).
Deputi Kepala Perwakilan KPw BI Provinsi Banten, Rawindra Ardiansah, mengatakan perekonomian Banten masih menunjukkan kinerja yang positif di tengah ketidakpastian dan dinamika ekonomi global.
Menurutnya, konflik geopolitik dan berbagai perkembangan global masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perekonomian nasional maupun daerah. Namun demikian, perekonomian Indonesia dinilai tetap resilien dan mampu mempertahankan pertumbuhan.
“Ekonomi kita masih sangat dipengaruhi kondisi global. Namun, ekonomi Indonesia tetap resilien. Banten juga Alhamdulillah masih tumbuh di atas nasional,” ujar Rawindra.
Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Banten pada triwulan II 2026 tercatat 5,49 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,29 persen.
Kinerja positif tersebut terutama ditopang oleh sejumlah lapangan usaha utama, seperti industri pengolahan, konstruksi, dan perdagangan.
“Industri pengolahan masih menjadi sektor dengan kontribusi terbesar sesuai karakteristik ekonomi Banten. Pada triwulan II, industri pengolahan tumbuh sekitar 4,87 persen dan sedikit menguat dibandingkan triwulan sebelumnya,” jelasnya.
Selain industri pengolahan, sektor konstruksi juga terus menunjukkan pertumbuhan positif. Kondisi tersebut sejalan dengan masih berlangsungnya berbagai proyek pembangunan infrastruktur, termasuk pembangunan jalan tol, kawasan industri, serta sejumlah proyek strategis lainnya.
Sementara sektor perdagangan tetap tumbuh positif meskipun mengalami perlambatan. Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi faktor musiman, terutama pergeseran momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan Idulfitri.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Banten. Pada triwulan II 2026, konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 5,09 persen, meskipun sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya.
Menurut Rawindra, tingginya aktivitas masyarakat selama periode libur sekolah dan momentum Idulfitri turut memberikan pengaruh terhadap aktivitas konsumsi masyarakat.
“Permintaan domestik masih cukup besar. Konsumsi rumah tangga di Banten memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi,” katanya.
*Investasi Banten Tetap Kuat*
Dari sisi investasi, Banten juga menunjukkan kinerja yang relatif kuat. Pada triwulan II 2026, realisasi investasi Banten masih menempatkan provinsi tersebut di peringkat kelima nasional, setelah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Tengah.
Investasi Banten tercatat tumbuh sekitar 3,41 persen, meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya.
Investasi tersebut antara lain mengalir ke sektor perumahan, kawasan industri, perkantoran, industri kimia dan farmasi, perdagangan, serta jasa transportasi.
“Kabupaten Tangerang menjadi salah satu wilayah dengan kontribusi investasi terbesar di Banten,” katanya.
Pertumbuhan kredit perbankan di Banten tercatat sekitar 6,84 persen. Sementara itu, Loan to Deposit Ratio (LDR) meningkat menjadi sekitar 73 persen. Kondisi tersebut menunjukkan semakin baiknya fungsi intermediasi perbankan dalam menyalurkan dana masyarakat menjadi pembiayaan bagi kegiatan ekonomi.
“Semakin tinggi intermediasi, semakin banyak pembiayaan yang disalurkan. Ini menunjukkan perbankan semakin berperan dalam mendukung kegiatan ekonomi,” ujarnya.
Rawindra menambahkan, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) perbankan di Banten masih berada di bawah batas yang dianggap aman, yakni sekitar 2,9 persen.



