Ekbispar.com, SERANG – Bagi sebagian orang, rumah adalah tempat untuk pulang setelah seharian bekerja. Namun, bagi pekerja independen seperti Setiawan Chogah, batas antara tempat tinggal dan tempat bekerja menjadi jauh lebih cair.
Di rumahnya di Perumahan Sukawana Asri, Kelurahan Sukawana, Kecamatan Curug, Kota Serang, aktivitas bekerja, membaca, menulis, menerima tamu, merawat tanaman, hingga mencari inspirasi berlangsung dalam ruang yang sama.
Rumah tersebut kemudian diberi nama Rumah Chogah 2.0. Bukan karena bangunannya dibuat mewah atau mengalami perubahan besar, melainkan karena Setiawan melihat rumah sebagai sesuatu yang terus berkembang mengikuti kehidupan penghuninya.
Rumah tersebut juga pernah menjadi bagian dari representasi aspek Perumahan Rakyat dalam penilaian Posyandu 6 SPM Tingkat Kota Serang 2026. Posyandu Wijaya Asri di lingkungan Perumahan Sukawana Asri kemudian meraih peringkat pertama tingkat Kota Serang dan melanjutkan penilaian ke tingkat Provinsi Banten.
Namun, bagi Setiawan, keterlibatan tersebut bukan alasan utama bagaimana rumah ini dirawat dan dikembangkan. Sejak awal, ia memang ingin menjadikan rumah sebagai ruang yang mendukung pekerjaan sekaligus kehidupan sehari-hari.
“Saya memandang rumah sebagai tempat untuk memanen ide. Setelah itu ide tersebut saya kerjakan. Jadi ruang hidup dan ruang kerja memang saling berhubungan,” ujar Setiawan.
Ketika Rumah Menjadi Ruang Kerja
Perubahan pola kerja membuat rumah memiliki fungsi yang semakin beragam. Bagi pekerja independen, freelancer, penulis, desainer, maupun pelaku industri kreatif, rumah dapat sekaligus menjadi kantor, ruang produksi, tempat bertemu klien, dan ruang istirahat.
Kondisi tersebut juga dirasakan Setiawan. Ia banyak menjalankan pekerjaannya dari rumah sehingga kebutuhan terhadap ruang tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan tinggal, tetapi juga kemampuan ruang tersebut mendukung produktivitas.
Meja kerja dengan perangkat komputer menjadi salah satu pusat aktivitas. Namun, pekerjaan tidak selalu berlangsung di sana. Laptop dapat berpindah ke halaman, sementara buku dan percakapan dapat menjadi bagian dari proses mencari gagasan.

“Kalau saya bekerja hanya dengan duduk di depan laptop sepanjang hari, biasanya justru cepat lelah. Saya membutuhkan ruang lain untuk membaca, berjalan sebentar, atau sekadar melihat tanaman,” kata Setiawan.
Karena itu, Rumah Chogah 2.0 tidak dirancang sebagai kantor yang kebetulan memiliki tempat tinggal. Ruang kerja justru ditempatkan sebagai salah satu bagian dari ekosistem kehidupan.
Produktivitas Tidak Hanya Soal Bekerja
Salah satu sudut halaman rumah tersebut diberi nama Pandora Corner. Ruang sederhana itu terdiri dari tempat duduk, meja, tanaman, dan area terbuka yang memungkinkan penghuninya menikmati suasana halaman.
Fungsinya justru bukan untuk bekerja. Pandora Corner menjadi ruang jeda, tempat Setiawan dapat duduk dengan secangkir kopi tanpa tuntutan untuk menyelesaikan sesuatu.
“Kalau semua sudut rumah hanya dipakai untuk kerja, lama-lama rumah juga terasa seperti kantor. Saya butuh tempat untuk berhenti sebentar,” ungkapnya.
Bagi Setiawan, jeda memiliki hubungan langsung dengan pekerjaan kreatif. Pikiran membutuhkan kesempatan untuk tidak terus-menerus mengejar hasil.
“Kadang ide justru muncul ketika saya sedang tidak mencari ide,” tambahnya.
Pandangan tersebut membuat ruang untuk beristirahat tidak dianggap sebagai ruang yang kehilangan fungsi. Sebaliknya, ia menjadi bagian dari produktivitas itu sendiri.
Tanaman sebagai Bagian dari Kualitas Ruang
Selain menjadi ruang kerja, halaman Rumah Chogah 2.0 juga berfungsi sebagai ruang hijau yang menyatu dengan aktivitas sehari-hari.
Pepohonan tumbuh di sekitar rumah, tanaman ditempatkan di berbagai sudut, dan sejumlah area terbuka dibiarkan memiliki hubungan langsung dengan ruang dalam.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep biophilic design, yaitu upaya menghadirkan unsur alam ke dalam lingkungan tempat manusia beraktivitas.
Namun, bagi Setiawan, tanaman tidak hadir semata karena pertimbangan desain.
“Saya suka melihat sesuatu tumbuh. Ada proses yang tidak bisa kita percepat. Kita hanya bisa merawatnya,” tuturnya.

Karena itu, sebagian tanaman dibiarkan tumbuh mengikuti kondisi ruang. Tidak semuanya ditata secara seragam dan tidak seluruhnya diperlakukan sebagai elemen dekorasi.
Ada sesuatu yang lebih personal dari aktivitas tersebut. Merawat tanaman memberikan jeda dari pekerjaan sekaligus menghadirkan pengalaman melihat proses yang berlangsung perlahan.
Rumah sebagai Investasi pada Kualitas Hidup
Jika investasi biasanya dikaitkan dengan aset finansial, Setiawan melihat rumah dari perspektif yang sedikit berbeda.
Bagi pekerja yang menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah, kualitas ruang dapat memberikan nilai yang tidak selalu langsung terlihat dalam angka.
Ruang kerja yang nyaman dapat mendukung produktivitas. Taman dapat menjadi tempat pemulihan setelah bekerja. Buku menyediakan sumber pengetahuan, sementara ruang yang memungkinkan seseorang menerima tamu dapat memperluas interaksi sosial.
Dengan demikian, rumah tidak hanya menjadi aset yang ditempati, tetapi juga bagian dari infrastruktur kehidupan.

“Saya tidak menghitung rumah hanya dari nilai bangunannya. Ada nilai lain yang saya dapatkan dari ruang yang membuat saya bisa bekerja dengan lebih tenang dan berpikir lebih baik,” jelas Setiawan.
Cara pandang tersebut juga membuat Setiawan tidak terlalu mengejar rumah berukuran besar.
“Saya lebih tertarik membuat rumah yang cukup. Cukup untuk bekerja, membaca, menerima teman, menanam sesuatu, dan punya ruang untuk berpikir,” katanya.
Buku sebagai Modal Pengetahuan
Di bagian dalam rumah, buku menjadi salah satu elemen yang paling menonjol. Rak dan dinding dipenuhi buku, poster, karya seni, foto, serta berbagai benda personal yang berkaitan dengan perjalanan pemilik rumah.
Sebagai penulis, Setiawan tidak menempatkan buku sekadar sebagai dekorasi. Koleksi tersebut menjadi bagian dari kesehariannya.
“Buku-buku di rumah ini datang dari perjalanan hidup saya. Ada yang sudah selesai dibaca, ada yang belum, dan ada yang mungkin saya beli hanya karena tertarik pada satu hal kecil di dalamnya,” ungkapnya.
Konsep tersebut kemudian berkembang menjadi The Living Library, sebuah gagasan tentang rumah yang tidak hanya menyimpan buku, tetapi juga menyimpan jejak pemikiran penghuninya.

Setiap buku, foto, poster, dan benda personal menjadi bagian dari cerita yang membentuk karakter rumah.
“Saya ingin orang yang datang ke rumah ini bisa membaca sedikit tentang siapa saya tanpa harus saya jelaskan semuanya,” ujar Setiawan.
Rumah yang Terus Diperbarui
Nama Rumah Chogah 2.0 sekaligus menjadi penanda bahwa proyek tersebut belum dianggap selesai.
Tanaman masih tumbuh. Buku terus bertambah. Kebutuhan kerja dapat berubah. Ruang dapat menemukan fungsi baru. Bahkan cara seseorang memahami rumah pun bisa mengalami perubahan seiring perjalanan hidup.
“Saya tidak pernah menganggap rumah sebagai sesuatu yang selesai ketika bangunannya selesai. Rumah terus berubah mengikuti orang yang tinggal di dalamnya,” tutur Setiawan.
Dalam konteks tersebut, rumah bukan sekadar produk akhir dari sebuah pembangunan. Ia menjadi ruang yang terus menerima investasi waktu, perhatian, pengetahuan, dan pengalaman.
Nilainya pun tidak hanya berada pada material yang membentuk bangunan, tetapi pada kehidupan yang berlangsung di dalamnya.

Bagi Setiawan, rumah yang baik tidak harus menjadi rumah yang paling besar atau paling mahal. Ia cukup menjadi ruang yang mampu mendukung penghuninya untuk bekerja, beristirahat, belajar, menciptakan sesuatu, dan menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Rumah Chogah 2.0 akhirnya menjadi gambaran sederhana tentang perubahan fungsi rumah di tengah cara kerja yang juga terus berubah.
Dari tempat tinggal menjadi ruang produktif. Dari ruang kerja menjadi tempat beristirahat. Dari halaman menjadi ruang berpikir.
Dan dari sebuah bangunan, perlahan menjadi bagian dari perjalanan hidup seseorang.



