EKBISPAR.COM – Ambisi membangun startup kecerdasan buatan (AI) di Indonesia masih terkendala oleh persoalan mendasar: ekosistem yang belum siap. Survei Cisco 2025 menunjukkan, 81% perusahaan di Indonesia belum siap mengadopsi AI karena minim kesiapan infrastruktur teknologi.
Hal ini turut dirasakan Ikhwan Iqbal, pendiri Boring AI, yang akhirnya menghentikan operasional bisnisnya di dalam negeri meski produknya tetap berjalan di Taiwan.
Boring AI sendiri dikembangkan sebagai platform yang membantu bisnis mengotomatiskan pekerjaan berulang, seperti mengelola komunikasi dengan pelanggan, hingga menjalankan berbagai workflow operasional secara otomatis.
Ide ini bermula dari pengamatannya bahwa banyak perusahaan ingin mengadopsi AI, tetapi masih terkendala dalam penerapannya.
Pakar digital dan AI dari ICT Institute Heru Sutadi mengungkapkan bahwa ekosistem teknologi di Indonesia sebenarnya mulai tumbuh dengan dukungan dan inisiatif dari pemerintah, kampus, serta berkembangnya startup AI dan infrastruktur cloud.
Namun, kesiapan itu masih terkonsentrasi di kota besar dan sektor tertentu seperti fintech dan e-commerce. Sementara banyak organisasi di luar sektor itu masih dalam tahap eksplorasi dan belum melakukan implementasi skala penuh.
“Ini berdampak pada proyek yang gagal, pemborosan biaya, dan ekspektasi yang tidak realistis. Pada akhirnya menimbulkan skeptisisme internal terhadap AI. Padahal masalahnya bukan teknologinya, tapi kesiapan organisasi perusahaan tersebut,” tegasnya.
Menurut Heru, kendala utama adopsi AI adalah kurangnya ahli yang mampu menghubungkan teknologi dengan kebutuhan bisnis, ketidakjelasan use case, serta biaya implementasi awal yang tinggi.
Ia juga menyoroti adanya miskonsepsi, di mana sebagian generasi yang lebih tua masih melihat AI hanya sebagai peluang pendapatan. Padahal teknologi ini dapat mendorong inovasi dan efisiensi yang lebih luas.
“Banyak perusahaan belum punya roadmap digital yang matang, sehingga AI menjadi inisiatif terpisah, bukan bagian dari strategi,” ujarnya.
Saat Pasar Global Jenuh, Indonesia Jadi Peluang
Boring AI berawal dari inisiatif Iqbal untuk berekspansi ke negara lain saat ia masih berada di Jepang. Awalnya, ia mempertimbangkan India atau Filipina, namun akhirnya memilih Indonesia.
Tujuan utamanya adalah membangun ekosistem di Indonesia dengan mencerdaskan generasi muda serta mengedukasi talenta lokal di bidang deep tech. Ia juga ingin membentuk komunitas yang dapat mendorong perkembangan teknologi tersebut.
Namun, ekosistem startup di Indonesia yang masih belum optimal dinilai menjadi penghambat. Talenta di Indonesia lebih banyak diajarkan hard skill sejak dini, sementara soft skill kurang ditekankan.
Perbedaan ini, bagi Iqbal, bukan sekadar soal kurikulum, melainkan mencerminkan filosofi yang lebih dalam tentang bagaimana tiap negara membangun teknologinya. Jika Taiwan fokus pada inovasi riset, maka Jepang fokus pada kualitas teknis, kedisiplinan, dan sistem yang andal dan stabil.
“Kalau di Amerika Serikat, fokus mereka adalah scalability: bagaimana caranya bisa membuat vision yang besar dengan impact yang jauh lebih besar secara global,” jelasnya.
Di sisi lain, ia juga melihat pasar AI di Amerika Serikat dan Jepang mulai mengalami kejenuhan karena banyaknya startup yang bermunculan dalam waktu singkat dan persaingan yang ketat.
“Di Amerika Serikat dan Jepang itu sudah market saturation. Di Indonesia, justru jadi opportunity,” ucapnya.
Iqbal menjelaskan, banyak perusahaan di kedua negara tersebut yang kembali mempekerjakan karyawan manusia karena penerapan AI tidak berjalan sesuai harapan.
Pada akhirnya, ekspansi perusahaan dari Amerika Serikat dan Jepang beralih ke Asia Tenggara karena pasar AI di kawasan tersebut masih berpeluang besar.
“Saya menangkap ini sebagai peluang, baik dari segi bisnis maupun dari passion yang saya inginkan, sehingga akhirnya saya kembali ke Indonesia,” ucap Iqbal.
Kesiapan Pasar Indonesia
Meski berpotensi besar, ekosistem teknologi di Indonesia dinilai masih didominasi oleh peran sebagai pasar, bukan pencipta teknologi itu sendiri.
“Indonesia itu masih market country. Kita jadi target market perusahaan teknologi global, bukan negara yang menciptakan teknologinya,” ujarnya.
Kondisi ini pula yang membuat perjalanan Boring AI di Indonesia tidak berjalan sesuai harapan.
Operasional di dalam negeri kini telah dihentikan, sementara produknya masih digunakan di pasar Taiwan yang dinilai lebih siap dari sisi teknologi.
Menurut Iqbal, banyak orang yang mulai memanfaatkan AI di Indonesia, tetapi fondasi infrastrukturnya masih belum berkembang secara optimal.
“Indonesia ini adalah market yang besar, tapi fondasi infrastruktur AI-nya masih sangat kurang,” ujar Iqbal.
Namun, Iqbal melihat pengalaman ini sebagai bagian penting dari proses membangun teknologi. Ia menilai, membangun startup AI bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal kesiapan pasar.
“Jadi memang challenge terbesar itu bukan di teknologinya, tapi di market readiness,” katanya.
Meski begitu, ia tetap optimistis terhadap masa depan AI di Indonesia. Ia meyakini bahwa dengan waktu dan ekosistem yang terus berkembang, peluang untuk membangun teknologi dari dalam negeri akan semakin terbuka.
Melalui startup tersebut, ia berharap dapat membantu membangun fondasi teknologi AI di Indonesia sekaligus mendorong lahirnya generasi baru yang tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga penciptanya.
“Harapannya, anak-anak Indonesia tidak hanya mahir memakai teknologi, tetapi juga mampu merancang dan membangunnya dari nol,” ujarnya. (Hilal)


