EKBISPAR.COM – Selama 32 hari, Jakarta Fair Kemayoran (PRJ) 2026 kembali mengubah kawasan JIExpo Kemayoran menjadi salah satu pusat aktivitas terbesar dan terpadat di Indonesia.
Ribuan pelaku usaha, jutaan pengunjung, pertunjukan hiburan, hingga transaksi ekonomi bernilai triliunan rupiah bertemu dalam satu kawasan yang terus bergerak dari pagi hingga malam hari, menuntut pengelolaan sistem parkir kendaraan yang mumpuni.
Tahun ini, Jakarta Fair yang berlangsung pada 11 Juni hingga 12 Juli 2026, berhasil mencatatkan 6,1 juta pengunjung dengan nilai transaksi mencapai Rp8,2 triliun.
Lebih dari 2.800 perusahaan turut berpartisipasi dengan menempati sekitar 1.800 stan yang tersebar di berbagai area pameran, menjadikan Jakarta Fair sebagai salah satu pameran multiproduk terbesar di Asia Tenggara.
Capaian tersebut tidak hanya mencerminkan besarnya aktivitas ekonomi yang berlangsung di dalam area pameran, tetapi juga tingginya mobilitas masyarakat menuju dan dari kawasan JIExpo Kemayoran sepanjang 32 hari penyelenggaraan.
Di baliknya, terdapat mobilitas ribuan kendaraan yang terus mengalir setiap hari, membawa pengunjung datang, berpindah, dan kembali meninggalkan kawasan.
Bagi Secure Parking Indonesia (SPI), menjaga kelancaran mobilitas jutaan pengunjung selama hampir sebulan gelaran yang dulu populer sebagai Pekan Raya Jakarta tersebut merupakan bagian penting dari keberhasilan penyelenggaraan sebuah event berskala besar.
Mengelola Mobilitas Sebuah Event Berskala Nasional
Berbeda dengan pusat perbelanjaan maupun gedung perkantoran yang memiliki pola kunjungan relatif konsisten, Jakarta Fair menghadirkan dinamika operasional yang berubah setiap hari.
Volume kendaraan dipengaruhi oleh hari kerja, akhir pekan, jadwal hiburan, hingga waktu kedatangan dan kepulangan pengunjung yang terus bergeser sepanjang penyelenggaraan acara.Untuk mendukung kebutuhan tersebut, SPI mengoperasikan layanan parkir selama 24 jam yang mencakup tiga zona operasional utama di sisi timur, utara, dan barat kawasan JIExpo Kemayoran.
Secara keseluruhan, operasional didukung oleh 20 pintu masuk dan 15 pintu keluar untuk kendaraan roda empat, serta 21 pintu masuk dan 8 pintu keluar untuk kendaraan roda dua yang memungkinkan distribusi arus kendaraan berlangsung lebih terarah di berbagai titik akses kawasan.
Tantangan semakin besar mengingat sejak dua tahun ini diberlakukan larangan parkir di badan jalan di sekitar kawasan JIEXpo, mendorong meningkatnya kebutuhan ruang parkir resmi.
Pada akhir pekan, ketika aktivitas pengunjung meningkat drastis, SPI menugaskan 293 personel operasional, dibandingkan 237 personel yang disiagakan pada hari kerja (weekdays), untuk memastikan layanan tetap berjalan optimal di seluruh area operasional.
“Mengelola parkir pada event berskala besar seperti Jakarta Fair bukan hanya soal melayani kendaraan dalam jumlah besar. Tantangan utamanya adalah menjaga agar mobilitas tetap mengalir ketika pola kedatangan dan kepulangan pengunjung terus berubah. Karena itu, setiap titik akses harus terus dipantau sehingga potensi kepadatan dapat diantisipasi sebelum berkembang menjadi antrean yang mengganggu kenyamanan pengunjung,” ujar Andiyanto, General Manager Operation SPI.
Menurut Andiyanto, pengelolaan operasional pada event berskala besar sangat bergantung pada kemampuan tim membaca dinamika di lapangan secara cepat, mengoptimalkan penempatan personel sesuai kondisi aktual, serta menjaga koordinasi antartim agar setiap perubahan situasi dapat direspons secara tepat.
Infrastruktur yang Jarang Terlihat, tetapi Menentukan
Ketika membicarakan keberhasilan sebuah event, perhatian publik umumnya tertuju pada jumlah pengunjung, nilai transaksi, ataupun kemeriahan acara. Padahal, terdapat berbagai fungsi pendukung yang bekerja secara bersamaan agar seluruh aktivitas tersebut dapat berlangsung dengan tertib.
Mobilitas merupakan salah satunya.Akses masuk yang lancar, sirkulasi kendaraan yang terkendali, hingga proses keluar kawasan yang tetap tertib menjadi bagian dari pengalaman pengunjung yang sering kali luput dari perhatian. Namun ketika salah satu proses tersebut terganggu, dampaknya dapat dirasakan oleh seluruh kawasan.
Karena itu, bagi SPI, pengelolaan parkir tidak lagi dipandang sekadar sebagai penyediaan ruang kendaraan, melainkan bagian dari infrastruktur operasional yang mendukung kelancaran sebuah event secara keseluruhan
“Semakin besar skala sebuah event, semakin penting pula peran infrastruktur pendukung yang bekerja di balik layar. Pengunjung mungkin datang untuk menikmati pameran, konser, atau berbelanja, tetapi seluruh pengalaman tersebut dimulai sejak mereka memasuki kawasan. Ketika mobilitas dapat dikelola dengan baik, seluruh ekosistem acara ikut bekerja lebih efektif,” kata Rustam Rachmat, Managing Director SPI.
Menurut Rustam, pengelolaan mobilitas kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kualitas penyelenggaraan sebuah kawasan maupun event berskala besar.
Bukan hanya untuk memastikan kendaraan dapat ditampung, tetapi juga untuk membantu masyarakat mengakses suatu kawasan dengan lebih aman, tertib, dan nyaman.
Ketika Sebuah Kawasan Tetap BergerakJakarta Fair menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah event tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di dalam area pameran, tetapi juga oleh kemampuan seluruh sistem pendukung bekerja secara terpadu.
Selama 32 hari penyelenggaraan, lebih dari 2.800 peserta pameran, 6,1 juta pengunjung, serta aktivitas yang berlangsung hampir tanpa henti membentuk sebuah ekosistem yang terus bergerak setiap hari.
Ketika pengunjung dapat datang, menikmati acara, lalu kembali pulang tanpa harus memikirkan bagaimana kendaraan mereka dikelola sejak memasuki hingga meninggalkan kawasan, di situlah pengelolaan mobilitas menjalankan perannya sebagaimana mestinya: tidak menjadi pusat perhatian, tetapi memungkinkan seluruh aktivitas di dalam kawasan berlangsung dengan baik. (Hilal)



