EKBISPAR.COM – Ini loh simit, resep khas Turki yang dijual di mana-mana. Ini adalah roti yang sangat populer, biasanya disajikan saat sarapan.
Simit ini adalah roti Turki berbentuk cincin dengan taburan wijen. Simit memang merupakan makanan khas Turki; roti berbentuk cincin yang dilapisi wijen ini pasti menjadi camilan paling populer di rumah.
Roti ini memiliki tekstur renyah di luar namun kenyal di dalam, dengan rasa gurih yang khas dari wijen sangrai dan sedikit sentuhan manis dari olesan karamel/molase.
Simit paling populer dinikmati saat sarapan atau sebagai camilan sore, biasanya ditemani secangkir teh khas Turki.
Simit sangat cocok dipadukan dengan keju putih (beyaz peynir), zaitun, tomat, mentimun, atau selai.
Adonan dasarnya sangat sederhana yaitu tepung, air, ragi, dan garam, yang kemudian dicelupkan ke dalam larutan molase (gula kental) sebelum dilumuri wijen dan dipanggang.
Makanan ini sangat merakyat dan mudah ditemukan di kafe, toko roti, hingga gerobak penjual kaki lima di seluruh penjuru Turki.
Diketahui bahwa kata simit roti bagel Turki ini berasal dari bahasa Arab yang berarti tepung putih murni. Dalam bahasa Turki bulgur tipis disebut juga simit, dekat dengan akar bahasa arabnya.
Ottoman
Laman Rmol membahas, sejarah simit berakar panjang di Anatolia ketika Kesultanan Ottoman berkuasa, di mana hubungan sejarah dengan simit meluas hingga tahun 1400-an.
Simit dihidangkan di meja makan sultan, di dapur istana, serta di tangan para pekerja.
Simit adalah makanan yang bisa disesuaikan cocok untuk sultan dan petani. Beberapa sejarawan mengatakan bahwa simit telah ditemukan di kota Bursa, ibukota Kesultanan Ottoman pertama pada abad ke-14 (Daily Sabah, 2014).
Dipercaya bahwa simit pada awalnya dibuat di dapur istana Sultan Suleiman Agung selama abad ke-16 meskipun tidak ada catatan resmi mengenai hal ini yang ditemukan.
Menurut catatan Üsküdar Şeriye pada tahun 1593, roti simit berbentuk cincin yang terbuat dari tepung tersebut dinamai Simid-i Halka (Lingkaran).
Catatan buku dapur istana pada masa Sultan Suleiman II tahun 1691 menunjukkan bahwa ada 30 buah jenis simit yang dihidangkan setiap hari untuk sultan dan para tamu istana. (Hilal)



