EKBISPAR.COM — Hari ketiga penyelenggaraan KKB dan BIF 2026 masih diisi dengan kegiatan talk show bersama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di XChange Mall, Tangerang Selatan, Minggu (11/10/2026). Talk show yang dipandu Andin Wijaya tersebut menghadirkan Surung Pasaribu dari SOGO Indonesia dan Purwanto Wahyudi dari Indomaret.
Kedua narasumber berbagi pengalaman serta memberikan wawasan mengenai peluang, persyaratan, dan strategi bagi UMKM agar dapat menembus pasar ritel modern.
Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi pelaku UMKM untuk memahami standar yang perlu dipenuhi, mulai dari kualitas produk, kemasan, harga, kapasitas produksi, hingga pengelolaan rantai pasok agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Surung Pasaribu mengatakan, pengalaman selama sekitar 25 tahun bekerja di industri ritel menjadi bekal untuk berbagi pengetahuan kepada para pelaku UMKM. Ia menegaskan, kehadirannya menceritakan pengalaman nyata dalam membangun kemitraan dengan berbagai merek dan pelaku usaha.
Menurutnya, peluang bagi produk lokal untuk masuk ke pasar ritel modern terbuka lebar. Namun, pelaku UMKM perlu memahami karakteristik pasar dan konsumen yang menjadi sasaran masing-masing jaringan ritel.
Ia menjelaskan, SOGO merupakan bagian dari jaringan department store yang beroperasi di berbagai lokasi premium di Indonesia. Dengan sekitar 1.500 merek yang bergabung, produk lokal menjadi salah satu bagian dari portofolio yang terus dikembangkan.
Surung menyebutkan, sekitar 32 persen dari merek yang bergabung merupakan merek lokal. Sejumlah merek yang awalnya berkembang sebagai usaha kecil mampu meningkatkan omzet secara signifikan setelah mendapatkan kesempatan masuk ke pasar ritel modern.
“Kesempatan selalu terbuka bagi UMKM untuk masuk ke department store. Namun, produknya harus tepat sasaran, baik dari sisi kualitas, harga, maupun karakteristik konsumen yang dituju,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pelaku UMKM perlu memastikan produknya memiliki kualitas yang baik dan harga yang kompetitif. Selain itu, ketersediaan stok juga harus dijaga agar produk yang diminati konsumen dapat terus tersedia.
Produk yang kurang diminati perlu dievaluasi, baik melalui pembaruan desain, penyesuaian strategi pemasaran, maupun distribusi ke gerai lain yang memiliki karakteristik konsumen berbeda.
Surung juga menekankan pentingnya inovasi berkelanjutan. Menurutnya, perkembangan teknologi, perubahan tren, dan kebutuhan pelanggan mendorong peritel untuk terus memperbarui konsep toko, sistem pelayanan, serta pengalaman berbelanja.
Lebih jauh, ia menilai keberadaan produk lokal di pasar ritel modern turut mendukung perekonomian nasional. Produk dalam negeri, terutama yang memiliki kandungan lokal tinggi dan bersifat padat karya, berpotensi menciptakan lapangan kerja serta menggerakkan berbagai sektor usaha pendukung.
Kehadiran merek lokal di pusat perbelanjaan juga membuka peluang bagi konsumen untuk mendapatkan produk berkualitas di dalam negeri. Hal ini sekaligus dapat mendukung upaya mempertahankan belanja masyarakat dan mengurangi potensi aliran devisa ke luar negeri.
Surung menambahkan, pelaku UMKM yang ingin memasuki pasar ritel modern perlu memperhatikan ketentuan produk, termasuk informasi pada label, asal produk, bahan, dan petunjuk perawatan. Pemenuhan standar serta ketentuan sertifikasi yang berlaku juga harus menjadi perhatian sejak awal.
Sementara itu, Purwanto Wahyudi dari Indomaret menjelaskan bahwa kemitraan dengan ritel modern dapat memberikan sejumlah manfaat bagi UMKM, mulai dari peningkatan kredibilitas produk, perluasan akses pasar, pendampingan usaha, hingga peluang memperoleh permintaan yang lebih teratur.
Menurut Purwanto, masuk ke jaringan ritel modern membuat produk berpeluang menjangkau konsumen dalam jumlah lebih besar. Jika produk dapat dipasok melalui pusat distribusi atau distribution center (DC), pemasaran dapat menjangkau banyak gerai sekaligus.
“Ketika produk UMKM masuk ke DC, produk tersebut berpeluang didistribusikan ke ratusan toko. Inilah salah satu bentuk perluasan akses pasar yang dapat dimanfaatkan pelaku UMKM,” jelasnya.
Ia menambahkan, Indomaret juga berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan berbagai instansi untuk memberikan pendampingan kepada UMKM. Kegiatan tersebut antara lain mencakup pengenalan standar ritel modern, peningkatan kualitas produk, serta fasilitasi pertemuan bisnis atau business matching.
Meski demikian, Purwanto mengingatkan bahwa pelaku UMKM harus mempersiapkan usaha secara matang sebelum memperluas distribusi.
Beberapa aspek yang perlu diperhatikan meliputi konsistensi mutu, daya tarik kemasan, legalitas usaha, sertifikasi yang dipersyaratkan, kapasitas produksi, ketersediaan bahan baku, sumber daya manusia, dan manajemen rantai pasok.
Ia menyarankan UMKM untuk tidak terburu-buru memasok produk ke seluruh gerai apabila kapasitas produksinya belum memadai. Ekspansi yang tidak diimbangi kesiapan produksi justru berisiko mengganggu ketersediaan barang dan keberlanjutan usaha.
“Setiap mendapatkan pasar baru, kapasitas produksi harus diperhitungkan. Jangan sampai ingin memasok ratusan atau ribuan toko, tetapi belum mempertimbangkan sumber daya manusia, modal, dan ketersediaan bahan baku,” ungkapnya.
Dalam pemilihan produk, Purwanto menyebutkan bahwa produk makanan dan minuman, termasuk makanan ringan, merupakan kategori yang banyak ditemui dari pelaku UMKM.
Namun, pelaku usaha perlu mengembangkan diferensiasi agar tidak terjebak menawarkan produk yang sama dengan kompetitor.
Ia mencontohkan, apabila banyak UMKM memproduksi keripik pisang dengan varian rasa yang serupa, pelaku usaha perlu mencari pembeda melalui inovasi rasa, kemasan, ukuran, maupun keunikan produk.
Selain diferensiasi, penetapan harga harus mempertimbangkan kualitas produk dan kemampuan konsumen. Pelaku UMKM perlu menghitung biaya produksi serta membandingkan produknya dengan barang sejenis yang telah beredar di pasar.
Diakhir pemaparannya, Purwanto juga mengingatkan pentingnya kejujuran dalam mencantumkan berat bersih produk. Informasi pada kemasan harus sesuai dengan isi sebenarnya karena konsumen semakin kritis terhadap ketepatan informasi dan kualitas barang yang dibeli.



