Serang, Ekbispar.com — Dunia literasi dan bisnis kembali bersinggungan melalui karya terbaru Setiawan Chogah berjudul Laki-laki yang Membawa Pohon di Dalam Dada.
Novel ini menjadi lanjutan dari Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka, namun kali ini fokus pada perjalanan Raif di Hong Kong, kota yang menjadi simbol dinamika ekonomi modern dan perjuangan pribadi manusia untuk tetap hidup seimbang.
“Saya ingin menulis tentang cara bertahan di tengah kota yang serba cepat, bukan dengan kekuatan, tapi dengan kesadaran,” ujar Setiawan Chogah kepada Ekbispar.com.
Raif dan Ekonomi Personal di Kota Global
Dalam buku ini, Raif bukan lagi hanya seorang penulis, tapi juga dosen tamu dan konsultan keuangan.
Setiawan menulisnya dengan gaya reflektif yang memadukan literasi finansial, psikologi kerja, dan spiritualitas keseharian.
Raif hidup di tengah harga sewa tinggi, transportasi padat, dan jam kerja panjang, namun tetap memilih hidup sederhana, membuat catatan keuangan dengan kalimat yang terdengar seperti doa:
“Masak di rumah, karena keheningan lebih murah daripada gula.”
Melalui Raif, Setiawan menyoroti isu-isu ekonomi personal yang dekat dengan realitas pekerja migran dan masyarakat urban, mulai dari pengelolaan pengeluaran harian hingga menjaga kesehatan mental di tengah tekanan finansial.
Hong Kong: Kota yang Sibuk, Tapi Mengajarkan Tenang
Setiawan menjadikan Hong Kong bukan sekadar latar, tapi karakter yang hidup.
Kota dengan ritme cepat, trem yang tak berhenti, dan cahaya neon yang berpacu dengan waktu, digambarkan sebagai ruang kontemplatif.
Di tengah kota sibuk itu, Raif menemukan pelajaran penting: bahwa keseimbangan justru lahir dari kesadaran untuk memperlambat langkah.
Setiawan bahkan mengunjungi Hong Kong dua tahun lalu untuk riset langsung.
Ia menelusuri distrik Wan Chai, Sheung Wan, dan Central, mengamati kehidupan ekonomi warga, serta interaksi masyarakat multikultural yang menjadi latar alami bagi cerita Raif.
Sosok Baru: Ziraf, Sang Fotografer yang Menyadarkan
Novel ini memperkenalkan karakter baru, Ziraf, seorang fotografer yang menjadi sahabat sekaligus penopang keseimbangan Raif.
Ziraf membantu Raif melihat kehidupan dengan perspektif baru, tidak mengubah arah hidupnya, tapi menenangkan langkahnya.
Hubungan mereka ditulis dengan lembut, penuh ruang sunyi, tanpa label.
Ziraf menjadi simbol keseimbangan: manusia yang tahu kapan harus merekam, dan kapan harus berhenti menilai.
Tokoh Lama dan Akar di Serang
Selain menampilkan kehidupan urban di Hong Kong, Setiawan juga menghadirkan kembali tokoh-tokoh lama dari novel sebelumnya: Rangga, Dinda, Ayra, Amar, dan Keira.
Beberapa bab berlatar Kota Serang, menghadirkan kehangatan akar dan rumah yang menjadi penyeimbang dunia metropolitan Raif.
Dengan dua kota, Serang dan Hong Kong, Setiawan memperlihatkan bahwa hidup modern tidak selalu harus kehilangan nilai-nilai tanah asal.
Sudah Bisa Dibaca Gratis di Wattpad, Buku Fisik Rilis 2 Desember
Novel Laki-laki yang Membawa Pohon di Dalam Dada sudah bisa dibaca gratis di Wattpad lewat akun @setiawanchogah.
Karya ini akan diperbarui setiap minggu dalam 22 bab bersambung, hingga akhir Desember 2025.
Sementara itu, versi cetak akan tersedia mulai 2 Desember 2025 di Tokopedia, bertepatan dengan ulang tahun ke-37 sang penulis.
Momen ini menjadi simbol kembalinya Setiawan ke dunia sastra setelah jeda panjang, sekaligus penanda bahwa tahun 2025 ia menutup perjalanan kreatifnya dengan dua novel panjang sekaligus.
“Menulis bagi saya bukan sekadar karier, tapi cara berterima kasih pada waktu dan orang-orang yang membuat hidup terasa penuh,” tulisnya dalam catatan penulis.
Tentang Setiawan Chogah
Setiawan Chogah adalah penulis dan desainer asal Banten. Selain menulis novel, ia juga aktif di Techfin Insight, platform edukasi finansial dan digital bagi pekerja migran Indonesia di Asia.
Karya-karyanya dikenal reflektif dan menyoroti hubungan antara ekonomi, psikologi, dan kemanusiaan.


