EKBISPAR.COM — Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Banten yang baru dilantik pada Senin (29/12/2025), KH Wawan Wahyudin, menegaskan komitmennya untuk memperkuat tata kelola zakat yang berintegritas, inovatif, dan transformatif. KH Wawan Wahyudin yang merupakan mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten itu menyampaikan arah kebijakan BAZNAS ke depan usai pelantikan pimpinan BAZNAS Provinsi Banten periode 2025–2030.
Menurutnya, integritas menjadi fondasi utama dalam pengelolaan zakat. Ia menekankan bahwa tanpa kepercayaan publik, potensi zakat yang besar tidak akan dapat dihimpun secara optimal.
“Integritas adalah fondasi yang membangun kepercayaan atau trust. Tanpa kepercayaan, potensi zakat mustahil bisa terhimpun,” ujarnya.
Wawan Wahyudin menegaskan bahwa BAZNAS wajib menjadi benchmark akuntabilitas. Hal tersebut dibuktikan melalui pelaksanaan audit ganda. “BAZNAS wajib menjadi benchmark akuntabilitas. Ini dibuktikan dengan audit ganda, pertama audit keuangan oleh akuntan publik independen dan kedua audit syariah oleh dewan pengawas syariah,” katanya.
Ia menambahkan, hasil audit tersebut harus dipublikasikan secara terbuka kepada masyarakat sebagai bentuk pertanggungjawaban publik. Selain itu, Wahyudin juga menyoroti pentingnya digitalisasi sebagai alat akuntabilitas. “Seluruh operasional BAZNAS harus terintegrasi dalam sistem informasi, salah satunya melalui SIMBA, untuk memastikan pemisahan dana zakat, infak, dan sedekah serta dampaknya,” jelasnya.
Wawan menekankan pentingnya inovasi penghimpunan zakat, khususnya dengan menyesuaikan perubahan perilaku muzaki dan perkembangan aset digital. Ia menyebut potensi zakat di Banten sangat besar dan perlu digarap lebih luas. “Potensi zakat Banten besar sekali. Karena itu kita harus bergerak mengikuti perubahan, termasuk pendekatan digital dan sektor-sektor baru,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan rencana perluasan basis muzaki, mulai dari sektor pertanian, industri, perhotelan, hingga kalangan konten kreator dan influencer. “Kami akan menjangkau berbagai sektor, termasuk youtuber dan influencer, agar zakat tidak hanya identik dengan kelompok tertentu saja,” ujarnya. Hal lain yang menjadi fokus kepemimpinan Wahyudin adalah zakat transformatif yang berorientasi pada pemberdayaan umat dan pengentasan kemiskinan. “Tugas kita bukan sekadar memberi, tetapi mengubah. Zakat harus menjadi instrumen transformatif yang memindahkan mustahik menjadi muzaki,” tegasnya.
Untuk memastikan penyaluran tepat sasaran, Wahyudin menekankan penggunaan data kemiskinan terpadu sebagai dasar pendistribusian. “Seluruh penyaluran wajib berbasis data kemiskinan terpadu dari pemerintah daerah, seperti P3KE, agar tidak terjadi tumpang tindih bantuan dan zakat benar-benar sampai kepada yang berhak,” pungkasnya. Dengan latar belakang akademisi dan pengalaman sebagai mantan Rektor UIN SMH Banten, Wawan Wahyudin optimistis BAZNAS Provinsi Banten mampu dikelola secara profesional, akuntabel, dan berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
(Sarah)


