EKBISPAR.COM – Unggas satu ini banyak dijadikan hewan ternak. Di kampung-kampung, itik cokelat ini banyak ditemukan bebas leluasa bergerak secara bergerombol.
Itik warna cokelat” (päteke) secara spesifik ternyataa berasal Selandia Baru (Anas chlorotis). Namun, di Indonesia sendiri terdapat beberapa jenis itik lokal dominan berwarna cokelat yang berasal dari daerah tertentu.
Misal Itik Kamang yang berasal dari Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Ada juga Itik Mojosari yang berasal dari Kelurahan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Sslain itu ada Itik Kerinci, berasal dari Kabupaten Kerinci, Jambi.
Itik Mojosari
Itik Mojosari atau sering disebut bebek Mojosari memiliki bulu yang didominasi warna cokelat kemerahan atau cokelat pirang polos khas bebek petelur Jawa.
Itik ini memiliki postur tubuh yang tegap dengan leher yang cukup panjang dan ramping, yang merupakan ciri khas rumpun Indian Runner (itik pelari).
Paruh dan kakinya berwarna hitam atau gelap kecokelatan.
Itik Mojosari merupakan salah satu jenis itik petelur lokal unggulan asli dari Mojokerto, Jawa Timur, yang sangat populer diternakkan karena memiliki daya tahan tubuh yang kuat serta tingkat produksi telur yang sangat tinggi
Itik Mojosari banyak dipelihara oleh para peternak karena memiliki keunggulan ekonomis yang sangat tinggi dibandingkan dengan jenis itik lokal lainnya.
Itik Mojosari dikenal sebagai salah satu petelur lokal paling produktif. Bebek ini mampu menghasilkan rata-rata 230 hingga 250 butir telur per ekor dalam satu tahun, bahkan dalam pengelolaan intensif yang optimal produksinya bisa menembus hingga 300 butir.
Bebek ini mulai bertelur pada usia sekitar 6 bulan. Setelah mencapai puncak produksi, masa bertelurnya cenderung stabil dan bertahan lebih lama.
Jenis itik ini memiliki daya tahan yang baik terhadap cuaca ekstrem serta perubahan lingkungan. Mereka tidak mudah stres, sehingga sangat cocok baik dipelihara di lahan sempit dengan sistem kandang kering intensif maupun dengan sistem digembalakan (angon).
Ukuran telur bebek Mojosari relatif lebih besar dengan bobot ideal sekitar 60–65 gram. Cangkang telurnya yang berwarna hijau kebiruan sangat kuat dan tebal, menjadikannya bahan baku terbaik dan paling dicari untuk pembuatan telur asin.
Postur tubuhnya yang cenderung ringkas dan ramping, tidak terlalu gemuk seperti itik pedaging, membuat konsumsi pakan hariannya menjadi lebih efisien, sehingga menekan biaya operasional peternak.
Ketika bebek sudah tidak lagi produktif menghasilkan telur atau emasuki usia afkir, bebek Mojosari masih memiliki nilai ekonomis yang baik untuk dijual sebagai bebek potong karena dagingnya juga diminati pasar. (Hilal)



