EKBISPAR.COM — Hari Guru Nasional (HGN) yang diperingati setiap tanggal 25 November merupakan momen penting untuk mengapresiasi dedikasi guru terhadap dunia pendidikan. Julukan sebagai pahlawan pendidikan karena tanggung jawab serta tugasnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, memang layak diberikan meskipun guru tidak menerima pengakuan yang sama seperti pahlawan kemerdekaan, namun kehadirannya sangat penting sebagai pondasi kemajuan bangsa. Undang-undang no.14 tahun 2005 tentang guru dan dosen telah mengatur jelas tugas utama guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, menilai, melatih, serta mengevaluasi peserta didik. Namun diluar dari tugas pokoknya tersebut, esensi kepahlawanan guru sesungguhnya juga dapat ditemukan dalam perilaku sehari-hari yang disebut Organization Citizenship Behavior (OCB), yaitu suatu tindakan sukarela yang melampaui tuntutan formal tugas namun secara signifikan berkontribusi pada efektivitas dan fungsi organisasi. Dan tidak bisa kita pungkiri bahwa sebagian besar dampak transformatif seorang guru terhadap peserta didik dan lingkungan sekolah lahir dari OCB.
Tanpa tambahan gaji yang diberikan sekolah, namun berkat OCB dalam dirinya (panggilan dari hati), guru secara sukarela dengan penuh semangat dan ikhlas melakukan hal-hal diluar tugas utamanya sebagai bentuk rasa kepedulian serta kepemilikan terhadap peserta didik dan citra sekolahnya. Guru yang melakukan OCB cenderung secara spontan menjangkau siswa, lebih bersedia untuk mencoba pendekatan inovatif terhadap kurikulum dan pengajaran, dan diinvestasikan secara pribadi dalam keberhasilan siswa dan bertanggung jawab atas prestasi belajar siswa (DiPaola, & Hoy 2005 dalam Somech, 2014).
Dimensi OCB
Organizational Citizenship Behavior (OCB) adalah konsep penting dalam manajemen sumber daya manusia dan psikologi organisasi yang merujuk pada perilaku-perilaku positif dan sukarela yang ditunjukkan oleh guru di luar tugas-tugas formal mereka. Organ, Podsakoff, & McKenzie (2005) mengidentifikasikan 5 dimensi yang membangun OCB di antaranya adalah:
1. Altruism, yaitu perilaku yang bersifat bebas pada karyawan yang memiliki pengaruh dari membantu karyawan lain pada tugas-tugas yang berkaitan erat dengan operasi-operasi organisasional.
2. Conscientiousness, yaitu perilaku yang bersifat bebas pada karyawan yang berisi tentang kinerja dan prasyarat peran yang melebihi standar minimum di organisasi pada kehadiran, mematuhi aturan dan regulasi, mengambil jeda istirahat dan seterusnya.
3. Sportsmanship, yaitu keinginan untuk bertoleransi terhadap keadaan kurang ideal dan tanpa mengeluh.
4. Courtesy, yaitu permasalahan yang perilaku berkaitan mencegah dengan pekerjaan yang dihadapi orang lain.
5. Civic Virtue, yaitu perilaku individual yang mengindikasikan bahwa dia menunjukkan partisipasi, telah terlibat, atau memperhatikan kelangsungan hidup perusahaan.
Faktanya di Sekolah selain melaksankaan tugas utamanya, banyak guru yang secara sukarela mengisi kekosongan jam mengajar ketika rekan kerjanya sakit agar peserta didik dapat tetap terlayani dengan baik, atau secara sukarela membantu rekan kerja senior dalam membuat media pembelajaran berbasis teknologi sesuai dengan tuntutan zaman (Altruisme),juga mendengarkan serta menyelesaikan masalah pribadi siswa di luar jam kerjanya (Courtesy). Apalagi, dengan adanya pendekatan deep learning serta kokurikuler sebagai pengganti P5 yang membuat guru harus menerima dan bekerja ekstra dalam memahami serta menerapkan perubahan baru tanpa mengeluh (Sportsmanship). Tidak sedikit pula guru yang rela berangkat lebih awal dari waktu yang ditentukan agar dapat menjadi teladan bagi peserta didik(Conscientiousness), juga berpatisipasi aktif dalam kepanitiaan serta memberikan ide positif dalam rapat demi kemajuan organisasi (civic virtue).
Jika dikaitkan dengan berita yang tengah viral saat ini dimana 2 guru yang melakukan tindakan sukarela membantu rekan kerja/guru honorer yang berlandaskan kemanusiaan harus berurusan dengan hukum merupakan bukti bahwa perilaku tersebut merupakan salah satu bentuk OCB yang secara tersirat dapat dipahami bahwa kontribusi tulus seorang guru melebihi kewajibannya dan OCB memberikan dampak positif bagi organisasi yaitu menciptakan budaya organisasi yang positif, pengurangan turnover, peningkatan kinerja organisasi secara keseluruhan, serta meningkatkan kolaborasi.
Kaitan tema HGN dengan OCB
Tema HGN tahun 2025 “ Guru Hebat, Indonesia Kuat”, menggambarkan bahwa generasi emas 2045 yang membuat indonesia kuat dapat terwujud dari tangan guru-guru yang hebat. Guru yang hebat bukan hanya menjalankan tugas utamanya (mengajar, menilai, administrasi) sesuai jam kerja untuk memenuhi standar minimal profesionalisme, namun, guru yang bebat” adalah guru yang memiliki kualitas lebih. Kualitas “hebat” ini sering kali lahir dari perilaku OCB. Oleh karena itu, peringatan HGN harus dimaknai sebagai seruan untuk menghargai setiap pengabdian guru baik pada tugas utamanya serta diluar tugas utamanya. Sebab, guru sebagai pahlawan sejati adalah mereka yang memberi, bukan karena ditugaskan, melainkan karena hati nurani profesional dan kecintaan pada murid dan institusinya. Prof Abdul Mu’ti menyatakan bahwa “Guru adalah akar yang menguatkan masa depan bangsa, menanam nilai, membentuk karakter, dan memberikan cahaya bagi anak-anak Indonesia”. Selamat Hari Guru Nasional, untuk seluruh guru di Indonesia.


