EKBISPAR.COM – Banten identik dengan debus. Setiap kali nama Banten disebut, beberapa orang langsung menjawab debus.
Debus adalah kesenian tradisional dari Banten yang menampilkan atraksi kekebalan tubuh ekstrem, seperti menusukkan benda tajam, memakan kaca, atau menginjak api tanpa terluka.
Kesenian ini memadukan bela diri, spiritualitas, dan seni pertunjukan, serta diyakini tumbuh sejak abad ke-16 sebagai alat dakwah Islam dan semangat perlawanan terhadap penjajah.
Berasal dari Banten dan populer pada masa Kesultanan Banten, khususnya pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa sebagai sarana membangkitkan semangat perjuangan rakyat.
Nama Debus dipercaya berasal dari kata gedebus, sejenis benda tajam yang digunakan dalam atraksi.
Kekebalan yang ditunjukkan berasal dari kekuatan iman, zikir, dan doa kepada Allah, bukan sekadar magis.
Atraksi debus merupakan pertunjukan yang melibatkan kekebalan tubuh dari berbagai benda tajam, air keras, atau api.
Umumnya diiringi musik tradisional dan lantunan doa untuk menciptakan suasana magis dan sakral.
Debus kini dikenal sebagai warisan budaya Nusantara yang melambangkan keberanian dan keteguhan iman masyarakat Banten.
Spiritualitas
Debus adalah kesenian bela diri tradisional khas Banten yang menampilkan kekebalan tubuh terhadap benda tajam, berakar dari kombinasi seni bela diri, spiritualitas Islam, dan mistisisme.
Berkembang sekitar abad ke-16 tepatnya masa Kesultanan Banten, tradisi ini awalnya digunakan sebagai sarana penyebaran agama Islam dan memompa semangat juang melawan penjajah.
Debus mulai berkembang pesat pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (abad ke-16) dan berlanjut hingga masa Sultan Ageng Tirtayasa (abad ke-17).
Dahulu, Debus digunakan oleh ulama untuk menarik masyarakat masuk Islam dan membangkitkan keberanian rakyat Banten dalam melawan kolonialisme Belanda.
Kesenian ini dipercaya berasal dari ajaran tarekat (seperti Rifaiyah) yang menekankan zikir dan kekebalan tubuh melalui pertolongan spiritual.
Kata “Debus” versi lain menyebut, berasal dari bahasa Arab dabus, yang berarti senjata tajam atau sejenis peniti/paku besar yang digunakan dalam atraksi menusuk tubuh.
Filosofi Debus adalah permainan religius-magis yang menekankan pada keyakinan kepada kekuatan Tuhan, di mana pemain melakukan latihan mental dan spiritual (doa/zikir) untuk mencapai tingkat kekebalan tertentu.
Kini, debus telah bertransformasi menjadi pertunjukan budaya dan seni tradisional yang ikonik dari Provinsi Banten. (Hilal)



