EKBISPAR.COM – Sejak lama kabar daun pisang yang dijual mahal di Jepang viral di Indonesia. Bayangkan, di Indonesia daun pisang bisa didapatkan dengan harga rendah atau bahkan malah gratis, di Jepang bisa mencapai Rp200.000 – Rp300.000 per lembar. Wow.
Ini karena faktor kelangkaan pohon pisang di iklim subtropis, biaya impor yang tinggi, dan tingginya permintaan untuk kebutuhan kuliner autentik.
Daun tersebut umumnya harus didatangkan dari negara tropis, sehingga biaya logistik dan perawatan agar tetap segar menjadi komponen utama mahalnya harga.
Sekadar tahu, Jepang adalah negara subtropis yang tidak mendukung pertumbuhan pohon pisang secara masif seperti di Indonesia, sehingga pasokan domestik sangat terbatas.
Daun pisang mudah layu, sehingga memerlukan biaya pengiriman cepat dan penyimpanan khusus agar tetap segar sampai ke konsumen.
Daun pisang sering digunakan oleh restoran kelas atas atau toko kelontong khusus untuk penyajian makanan tradisional yang membutuhkan aroma khas daun.
Tingginya biaya ekspor-impor dari negara tropis membuat harga per lembarnya melambung tinggi.
Alami
Di Jepang, daun pisang dihargai tinggi dan dijadikan pembungkus makanan alami yang higienis serta ramah lingkungan (menggantikan plastik), terutama untuk makanan tradisional seperti chimaki.
Chimaki atau kue beras berbentuk kerucut ini disajikan saat Hari Anak.
Karena aromanya yang khas, daun ini juga digunakan sebagai alas makanan di restoran Asia, bahan seni merangkai bunga (ikebana), dan bahan organik untuk kompos.
Daun pisang juga digunakan di restoran atau rumah tangga sebagai pengganti plastik untuk aroma yang lebih autentik.
Selain itu juga jadi bahan Seni Ikebana atau seni merangkai bunga, khususnya gaya seperti Rikka dan Nageire.
Daun pisang kering maupun basah dimanfaatkan sebagai bahan kompos.
Selain itu daun pisang menjadi obat herbal, dipercaya mengandung senyawa aktif yang bermanfaat untuk kesehatan.
Diimpor dari Negara Lain
Daun pisang di Jepang dijual dengan harga sangat mahal, bahkan bisa mencapai ratusan ribu rupiah per lembar karena dianggap sebagai komoditas eksklusif yang diimpor.
Namun pohon pisang pun tumbuh di Jepang, terutama di wilayah beriklim hangat/subtropis seperti Okinawa dan Pulau Ishigaki. Meskipun bukan tanaman asli, jenis tertentu seperti Musa basjoo (pisang Jepang) mampu bertahan dalam kondisi dingin.
Di wilayah seperti Okinawa, pohon pisang sering ditemukan dan pemandangannya mirip Indonesia.
Pohon pisang banyak terdapat di daerah selatan seperti Prefektur Okinawa, Kepulauan Amami (Kagoshima), dan Miyazaki.
Pisang Jepang (Musa basjoo), spesies ini sering ditanam sebagai tanaman hias karena tahan dingin hingga, meskipun buahnya jarang dimakan.
Pisang di Jepang, jarang dijual secara masif di toko-toko umum dan umumnya dikonsumsi sendiri oleh petani setempat.
Untuk memenuhi kebutuhan daun pisang, Jepang mengimpor daun pisang terutama dari negara-negara tropis, dengan Indonesia menjadi salah satu pemasok utama yang potensial.
Indonesia adalah salah satu negara tujuan utama ekspor daun pisang ke Jepang.
Potensi ekspor daun pisang Indonesia ke Jepang sangat besar, bahkan tercatat nilai ekspor yang terealisasi mencapai ratusan ribu dolar AS, menunjukkan pasar yang menjanjikan.
Karena dianggap produk premium, daun pisang harus memenuhi standar keamanan dan kualitas yang ketat.
Selain Indonesia, negara tropis lain di Asia Tenggara juga berpotensi menjadi pemasok, namun laporan menunjukkan Indonesia memegang peranan penting dalam pasar ini. (Hilal)


