EKBISPAR.COM — Di bulan suci Ramadan, permintaan pasar terhadap kelapa biasanya naik disebabkan banyaknya yang membutuhkan kelapa untuk membuat olahan takjil buka puasa. Namun ada yang berbeda dengan tahun ini, antusiasme masyarakat membeli kelapa saat Ramadan maupun Syawal disebut tidak memiliki perbedaan signifikan. Seorang pedagang kelapa di Serang mengungkapkan, pola pembelian hanya berbeda dari sisi waktu konsumsi, namun secara pendapatan relatif sama.
“Sama aja sih, cuma kalau bulan Syawal kan kebanyakannya yang nongkrong sambil minum di sini. Kalau bulan Ramadan kan banyaknya buat buka puasa di sore hari, dia udah pulang kerja baru mampir kalau yang minat. Termasuknya sama aja, ukurannya pendapatan sama Syawal,” ujar Sarnen.
Ia menambahkan, pemasukan selama Ramadan tahun ini tidak jauh berbeda dibanding bulan-bulan biasa. Namun jika dibandingkan Ramadan tahun ini dengan Ramadan pada tahun-tahun sebelumnya, ia mengakui terjadi penurunan omzet. “Kalau yang sekarang ini lebih menurun sih masalah omset ekonomi,” tuturnya.
Ia menyadari bahwa kondisi ekonomi global yang sedang menurun turut berdampak pada daya beli masyarakat. Meski demikian, ia tetap berharap usahanya bisa terus berjalan. “Untuk harapan ke depannya ya gimana ya, jualan aja. Memperjuangin aja untuk nafkah di rumah,” ucapnya.
Soal harga, ia menyebutkan terjadi kenaikan signifikan dari tahun ke tahun. Jika pada 2010 harga kelapa masih berkisar Rp1.000 hingga Rp1.300, kini harga jual mencapai Rp10.000 per butir di wilayah Serang. “Rp10.000 udah harga manual sih di Serang, rata-rata dari Ciruas sampai Cilegon juga segitu. Kalau ke arah Tangerang atau Jakarta bisa minimal Rp12.000,” jelasnya.
Menurutnya, kenaikan harga tidak terlepas dari biaya distribusi. Kelapa yang dipasok dari wilayah Pandeglang relatif lebih murah karena jarak dekat. Namun jika didatangkan dari luar daerah seperti Jakarta, Bogor, Lampung, ongkos transportasi menjadi lebih mahal dan turut memengaruhi harga jual.
(Sarah)


