EKBISPAR.COM – Di tengah kepungan jajanan viral, burger masih bertahan dan digemari. Burger termasuk jenis makanan cepat saji (fast food) atau junk food, serta dikategorikan sebagai bentuk sandwich karena menggunakan irisan roti untuk menjepit isi di bagian tengahnya.
Komponen utama burge ada roti (bun) yakni roti bundar yang dibelah dua, umumnya terbuat dari tepung terigu. Selain itu ada patty (daging), lembaran daging giling, biasanya daging sapi atau ayam.
Pelengkapnya ada sayuran seperti selada dan tomat, tambahan keju, serta saus seperti mayones dan saus tomat.
Burger termasuk makanan padat kalori yang mengandung kalori, lemak jenuh, dan natrium yang tinggi. Burger ini makanan yang rendah serat, porsi sayuran di dalam burger umumnya sedikit dibandingkan porsi karbohidrat dan dagingnya.
Akulturasi
Secara historis, burger yang kita kenal sekarang merupakan hasil gabungan dari Jerman dan Amerika Serikat, dengan akar budaya yang bahkan ditarik jauh hingga ke Mongolia.
Berikut adalah urutan perjalanan sejarah asal-usul burger:
1. Akar Awal: Daging Cincang Bangsa Mongol (Abad ke-13)
Metode Berkuda: Tentara Mongol (Bangsa Tartar) biasa menaruh daging mentah di bawah pelana kuda mereka selama perjalanan jauh.
Tekstur Empuk: Tekanan dan gesekan membuat daging menjadi empuk sehingga bisa langsung dimakan mentah-mentah.
Menyebar ke Rusia: Melalui invasi, kebiasaan ini diadopsi oleh orang Rusia dan dimodifikasi menjadi hidangan daging mentah cincang bernama Steak Tartare.
2. Penamaan: Lahir di Hamburg, Jerman (Abad ke-18)
Hamburg Steak: Para pelaut membawa resep daging cincang Rusia ini ke kota pelabuhan Hamburg, Jerman.
Proses Memasak: Karena orang Jerman tidak suka daging mentah, mereka membumbui daging giling tersebut dengan bawang dan rempah, lalu memanggangnya. Hidangan ini dikenal sebagai Hamburg Steak.
Arti Nama: Kata “Hamburger” secara harfiah berarti “berasal dari kota Hamburg”. Jadi, nama makanan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan ham (daging babi).
3. Bentuk Modern: Menjadi Sandwich di Amerika Serikat (Abad ke-19)
Migrasi Massal: Pada abad ke-19, imigran Jerman membawa resep Hamburg Steak ini ke Amerika Serikat.
Inovasi Roti: Untuk memudahkan pekerja atau pengunjung festival makan sambil berjalan, para pedagang di Amerika mulai menjepit daging panggang tersebut di antara dua belahan roti.
Globalisasi: Amerika Serikat lah yang mempopulerkan format sandwich ini melalui restoran cepat saji hingga mendunia seperti sekarang.
Mendunia
Burger bisa mendunia dan menjadi salah satu makanan paling populer di bumi karena kombinasi dari sistem bisnis Amerika yang revolusioner, kepraktisan, serta sifat makanannya yang sangat fleksibel.
Berikut adalah faktor-faktor utama yang membuat burger tersebar ke seluruh dunia:
1. Revolusi Sistem Makanan Cepat Saji (Fast Food)
Sistem Lini Perakitan (Assembly Line): Pada tahun 1948, McDonald’s mengadopsi sistem pabrik mobil Henry Ford ke dalam dapur mereka. Daging, roti, dan saus dirakit dengan kecepatan tinggi dan tugas yang berulang.
Konsistensi Rasa: Jaringan seperti McDonald’s dan Burger King memastikan bahwa rasa burger di Tokyo, London, maupun Jakarta memiliki standar rasa yang persis sama.
2. Budaya Otomotif dan Kesibukan Urban
Makanan untuk Pengemudi: Pasca Perang Dunia II di Amerika, kepemilikan mobil melonjak tajam. Format burger yang dijepit roti sangat pas karena bisa dimakan dengan satu tangan sambil menyetir tanpa perlu piring atau garpu.
Gaya Hidup Cepat: Seiring pertumbuhan kota-kota besar di dunia, masyarakat urban membutuhkan makanan yang murah, mengenyangkan, dan tersaji dalam hitungan menit. Burger menjadi solusi paling praktis.
3. Mudah Beradaptasi dengan Budaya Lokal
Burger disukai di berbagai negara karena strukturnya yang mudah dimodifikasi sesuai kultur setempat tanpa mengubah bentuk aslinya:
Di India: Mengingat mayoritas warga tidak makan daging sapi, jaringan restoran menggantinya dengan patty kentang (McAloo Tikki) atau daging ayam.
Di Jepang: Muncul inovasi Teriyaki Burger atau menggunakan bun yang terbuat dari nasi padat (Rice Burger).
Di Indonesia: Banyak merek lokal seperti Burger Bangor yang menyesuaikan rasa dengan lidah masyarakat setempat menggunakan saus lokal dan harga yang lebih terjangkau.
4. Pengaruh Budaya Populer (Pop Culture)
Simbol Modernisasi: Melalui film Hollywood, acara televisi, dan iklan masif, burger dicitrakan sebagai simbol gaya hidup modern, kasual, dan kebarat-baratan. Mengetahui hal tersebut membuat generasi muda di berbagai belahan dunia tertarik untuk mengonsumsinya.
Begitu kuatnya pengaruh global burger sampai-sampai majalah ekonomi The Economist menciptakan Big Mac Index, yaitu indikator ekonomi global untuk mengukur daya beli suatu negara hanya dengan membandingkan harga burger!(Hilal)



