EKBISPAR.COM – PT Kereta Api Indonesia (KAI) merencanakan pembangunan megaproyek rel kereta api yang menghubungkan Banda Aceh hingga Bandar Lampung.
Megaproyek Trans Sumatera ini membutuhkan investasi sekitar Rp350 triliun hingga Rp448 triliun dan ditargetkan selesai dalam jangka panjang.
Pembangunan rel kereta api baru sepanjang lebih dari 1.110 km dan mereaktivasi jalur yang tidak aktif ini untuk menyambungkan konektivitas antar-provinsi di Pulau Sumatera.
Tahap awal, KAI memprioritaskan pembangunan tahap awal untuk rute Banda Aceh-Besitang sepanjang ≈ 478 km, yang mana penyusunan Detail Engineering Design (DED) sedang dipersiapkan.
Proyek ini diinisiasi untuk kelancaran mobilitas penumpang sekaligus mempercepat distribusi logistik guna mendorong pertumbuhan ekonomi di Pulau Sumatera.
Perhatian Khusus
Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus pada proyek ini karena dinilai menjadi kunci utama untuk menurunkan biaya logistik nasional, meningkatkan daya saing ekonomi, dan melakukan pemerataan kesejahteraan rakyat di Pulau Sumatera.
Saat ini, jalur kereta api di Sumatera masih terfragmentasi dan terpisah-pisah di beberapa wilayah saja.
Alasan utama proyek ini dinilai sangat penting untuk direalisasikan antara lain untuk menurunkan biaya logistik. Transportasi rel jauh lebih efisien untuk mendistribusikan barang, hasil bumi, dan komoditas tambang dalam jumlah masif dibandingkan truk darat.
Selain itu untuk pemerataan ekonomi daerah. Jalur ini akan membuka akses ke wilayah-wilayah terisolasi, menghubungkan pusat pertumbuhan ekonomi baru, serta memperkuat posisi Lampung sebagai gerbang logistik utama dari dan menuju Pulau Jawa.
Keberadaan rel kereta juga dapat menjadi alternatif transportasi massal yang menawarkan opsi perjalanan penumpang jarak jauh yang aman, cepat, bebas macet, dan terjangkau antarlintas provinsi.
Menurut Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur, kereta api hanya menyumbang emisi karbon kurang dari 1% dibandingkan transportasi jalan raya konvensional yang mencapai 89%. Dan ini lebih hemat.
Hal lainnya yakni mendukung sektor pariwisata dengan mempermudah akses wisatawan untuk menjelajahi berbagai destinasi wisata unggulan di sepanjang Pulau Sumatera.
Tantangan Utama Proyek
Meski krusial, proyek ini menghadapi tantangan biaya investasi yang sangat besar (mencapai Rp350 triliun – Rp448 triliun). Oleh karena itu, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) mengingatkan agar pembangunannya dilakukan secara bertahap dan matang, berbasis kebutuhan riil masyarakat agar tidak menjadi proyek yang minim manfaat di lapangan.
Biaya proyek kereta api Trans Sumatera ini diperkirakan mencapai Rp350 triliun (sekitar US$20 hingga US$25 miliar).
Jadwal pengerjaan dan tahapan proyek terbagi seperti ini:
Tahap Perencanaan Akhir (2025–2026): Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Kementerian Perhubungan sedang mematangkan perencanaan komprehensif, penyusunan rancangan teknik terperinci (Detail Engineering Design/DED), serta mematangkan skema pendanaan kreatif non-APBN.
Tahap Awal Konstruksi: Pembangunan fisik difokuskan pada jalur Banda Aceh – Besitang sepanjang sekitar 478 km sebagai titik awal prioritas. Pemerintah menargetkan pengerjaan fisik untuk tahap awal di luar Pulau Jawa ini bisa mulai bergulir dalam rentang 3 tahun mendatang.
Target Rampung Keseluruhan: Karena jalurnya membentang sepanjang lebih dari 1.110 km membelah Pulau Sumatera, megaproyek ini ditargetkan terhubung sepenuhnya secara bertahap dengan target jangka panjang hingga tahun 2045.
Pemerintah menegaskan bahwa pengerjaan proyek senilai Rp350 triliun ini sengaja dicicil per segmen/rute prioritas agar tidak membebani keuangan negara secara mendadak. (Hilal)



