EKBISPAR.COM — Di ujung utara Kabupaten Serang, tepatnya di Pulo Panjang, deru ombak kini bersahut dengan tawa anak-anak SD Negeri Pulo Panjang 2 yang lebih ceria. Sekolah mereka tengah berbenah. Bukan sekadar perbaikan biasa, melainkan sebuah transformasi sarana pendidikan melalui program bertajuk BRIDGE (Banten Renewable Island Development for Global Education).
Program ini merupakan buah kolaborasi hangat antara PLN UID Banten bersama Lembaga Amil Zakat Harapan Dhuafa (LAZ Harfa) dan PLN PLTU Lontar. BRIDGE hadir sebagai jembatan bagi anak-anak pulau agar tetap bisa mengejar mimpi dengan fasilitas yang setara dengan mereka yang di daratan, sekaligus mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s) 4, Pendidikan yang Berkualitas.
Langkah nyata pertama yang kini sudah dirasakan manfaatnya adalah tertatanya halaman sekolah. Sebanyak 12.800 buah paving block FABA (_Fly Ash_ dan _Bottom Ash_) dari PLN PLTU Lontar telah terpasang rapi. Menariknya, material ini merupakan pemanfaatan sisa pembakaran batu bara yang diolah menjadi material konstruksi kokoh. Kini, lapangan dan halaman SD Negeri Pulo Panjang 2 tak lagi becek saat hujan atau berdebu saat terik, menjadi ruang aman bagi siswa untuk berlari dan berolahraga.
Tak berhenti di lantai halaman, semangat literasi juga terus dipupuk. Saat ini, proses pembangunan 3 unit saung taman baca sedang berlangsung. Ke depannya, saung-saung ini akan menjadi tempat ternyaman bagi para siswa untuk menyelami jendela dunia melalui buku-buku bacaan, di bawah naungan semilir angin pulau.
Kepala Sekolah SD Negeri Pulo Panjang 2, Kamaludin, S. Pd, menyampaikan bahwa kehadiran program BRIDGE disambut dengan rasa haru dan syukur oleh pihak sekolah. Perubahan fisik sekolah yang kini lebih tertata memberikan semangat baru bagi para guru dan siswa dalam menjalani aktivitas belajar mengajar sehari-hari. Sarana yang lebih layak ini dinilai menjadi motivasi besar bagi anak-anak di pulau untuk terus bermimpi setinggi langit.
“Dulu halaman kami sering becek kalau hujan turun, anak-anak jadi terbatas ruang geraknya. Tapi sekarang, berkat bantuan _paving block_ FABA ini, sekolah jadi lebih rapi dan bersih. Kami sangat berterima kasih karena PLN dan LAZ Harfa sudah peduli dengan pendidikan anak-anak di pulau terpencil seperti kami,” ungkap Kamaludin
Lebih lanjut, Kepala Sekolah SD Negeri Pulo Panjang 2 menambahkan bahwa bantuan teknologi dan ruang literasi ini merupakan lompatan besar bagi sekolah mereka.
“Bantuan upgrade sarana belajar berupa laptop dan pembangunan saung baca ini adalah mimpi yang jadi nyata bagi kami. Anak-anak di sini punya semangat belajar yang tinggi, dan fasilitas ini akan membuka wawasan mereka lebih luas lagi agar tidak kalah dengan siswa di kota besar. Program BRIDGE benar-benar menjadi jembatan ilmu bagi mereka,” Tambah Kamaludin.
Menyadari pentingnya adaptasi teknologi, PLN UID Banten juga menyerahkan bantuan laptop untuk menunjang kegiatan belajar mengajar berbasis digital. Selain itu, berbagai perlengkapan alat olahraga juga diberikan untuk memastikan pertumbuhan fisik anak-anak pulau tetap terjaga dengan ceria.
PLH General Manager PLN UID Banten, Bobby Cristya Surya, menegaskan bahwa bantuan ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan investasi jangka panjang untuk sumber daya manusia di wilayah pesisir. Melalui peningkatan fasilitas ini, Bobby berharap jarak kualitas pendidikan antara anak-anak pulau dan mereka yang di kota besar tak lagi menjadi penghalang.
“Program BRIDGE ini adalah bentuk komitmen kami untuk hadir hingga ke pulau terluar. Kami ingin memastikan sarana dan prasarana pendidikan di SD Negeri Pulo Panjang 2 mampu mendukung lahirnya generasi global dari Banten dengan kualitas pendidikan yang baik,” ujar Bobby.
Meski pembangunan saung baca masih terus dikebut, wajah baru sekolah ini sudah mulai terlihat.



